Tuesday, November 15, 2011

Dibalik Seorang Pelaut

Apa dan bagaimna dibalik seorang pelaut, mencoba untuk mengupas dari diri seorang pelaut dan tentang jenjang karier, pendidikan serta  kehidupan keseharian seorang pelaut di atas kapal, mari kita kaji semua dlam blog artikel saya ini, dan sebagian besar saya mabil dari pengalaman pribadi diri saya sendiri, asumsi masarakat tentang pelaut, sebagian besar masarakat awam menganggap tentang profesi pelaut ini adalah pelaut tidak pernah mabuk laut, masak kerja dilaut masih mabuk laut juga? Terus cerita yang juga berkembang di masyarakat awam adalah Pelaut itu Pemabuk( minuman), Kasar, Punya istri dimana mana, tiap pelabuhan mungkin? Dan pastinya kuat, tahan banting, petualang cinta alias playboy, dan tidak pemabuk laut.

Karena banyak ketidaktahuan masyarakat awam, tentang profesi pelaut yang sebenarnya, aku berusaha deh mewakili menjawab pertanyaan yang sering diajukan buat pelaut.. Apa sih sebenernya pekerjaan dan kharakter pekerjaan mereka, membahas gosip gosip pelaut juga
Mulai yuukk...

Pelaut sekolahnya dimana?

Perwira pelaut pelayaran besar atau Internasional bersekolah sebagai Taruna atau calon cadet di Sekolah Tinggi Pelayaran negri atau swasta. Ada 3 sekolah tinggi negri, berlokasi di Jakarta, Semarang dan Makassar. Sekolah ini dibawah badan diklat hubla. Sekolah dinas yang mendapat sedikit subsidi, tapi berbayar dan tidak ikatan dinas. Disamping itu juga ada banyak sekolah tinggi pelayaran swasta. Baik negri atau swasta mendapatkan ijazah laut dari badan hubla. Teregistrasi dan dapat dicheck keabsahannya di internet di data base pelaut. Buat yang tidak mengenyam pendidikan perwira, ada juga pelaut yang mulai dari nol, dari jabatan paling rendah, dengan mendapat pengalaman dia bisa bersekolah dan terus hingga jenjang tertinggi, butuh waktu yang lama dan kesabaran luar biasa. Dan aku sering bertemu Kapten kapten hebat yang memulai jadi pelaut dari kelasi atau ordinary seaman. 

Keahlian Pelaut

Biasanya sekolah sekolah ini menyediakan 2jurusan keahlian yaitu jurusan nautika, ahli navigasi dan jurusan technika, ahli mesin perkapalan. Ada yang berminat memasukkan ponakan? Saudara? Ke sekolah sekolah ini? Check saja di www.perhub.go.id ada info badan diklat dan pendidikan yang harus ditempuh... Sedangkan untuk Rating atau kru kapal atau abk maka tidak diperlukan keahlian khusus, tapi wajib mengikuti beberapa training sebelum berlayar, sesuai dengan amandemen internasional stcw 95, ratifikasi pelaut. Ada banyak training yang harus diikuti, dan ijazah training ini berlaku internasional. Trainingnya mencakup pengetahuan dasar sea survival, fire fighting, first aid, dan training dasar kelautan untuk abk deck atau mesin. 

Pelaut Berlayar berbulan bulan tidak lihat daratan?

Pada pelayaran masa lalu yang menggandalkan angin sebagai penggerak utama, berlayar akan memakan waktu berbulan bulan, tapi jaman sekarang, dimana kapal memakai tenaga mesin sebagai tenaga pendorong. Hasilnya perjalanan akan jadi jauh lebih cepat, dan tidak ada lagi pelayaran yang memakan waktu lama, biasanya sebulan sudah termasuk lama saat ini, seperti pelayaran dari Jepang ke Eropa lewat terusan Suez, bisa memakan waktu satu setengah bulan jika kecepatan kapal hanya sekitar dibawah 15Knots. Tapi dengan segala fasilitas telepon, internet dan entertainment dikapal, perjalanan panjang biasanya tidak lagi membosankan karena banyak aktifitas.

Rasanya Gimana Berada ditengah lautan luas dan hanya melihat laut laut dan laut?

Errr biasa aja sih... di minggu pertama sih masih takjub liat sunset, sunrise, bintang, lumba lumba dan lain lain... tapi setelah itu kesibukan bekerja, laporan, jaga, overtime dan lain lain membuat tidak sempat lagi menikmati keindahan alam layaknya penumpang. Mikirnya kapan ya jadwal Sign Off?? Bosan? tergantung sih, Money Talks deh, kerja jauh jauh begitu dengan resiko ga kecil apa lagi alasannya kalau bukan karena uang? Dedikasi karena pekerjaan? ato cinta laut??? You can talk like that if you already spent 40 years as a seaman, if below that, all just because of money. That's it. Uang dan jalan jalan gratis liat negri orang... Hampir semua pelaut berfikir Melaut cuma batu loncatan, ngumpulin uang buat bisnis, dan jika saatnya tepat langsung ke darat kumpul sama keluarga... bla bla bla... Kenyataannya mereka itu Love and Hate relationship jadi pelaut, mau ga balik susah adaptasi cari kerjaan didarat, mau balik juga benci ninggalin keluarga demi Dollar... Tapi kenyataannya mereka kembali dan kembali lagi kelaut, karena gaji sebulan dikapal bisa jadi itu gaji setahun didarat? 

Pelaut Playboy dan Banyak istri ditiap pelabuhan?

Hmmmm.... Mungkin ya pada jaman dahulu kala, saat komunikasi sulit, telpon ga ada, perempuan di pelabuhan bisa dengan mudahnya datang ke kapal saat kapal datang, saat berlayar itu tidak ada banyak aturan dan Sailing is Fun and Easy money... Aku ga tau kalo dari sebaigian pelaut sekarang masih memegang prinsip seperti itu, setahu dan pengalaman saya kita hanya di sibukan dengan pekerjaan yang segudang.. apa lagi bagi kapal2 yang oprasionalnya di offshore alias untuk difungsikan sebagai pelayanan pengeboran lepas pantai seperti RIG atau JACKET bisa full 24jam mereka kerja dan kerja, selalu berada di tengah laut terus menerus sampai habis kontrak mereka, jadi untuk waktu enjoy atau berfikiran happy2 sudah tidak ada lagi, hiburan satu2nya hanya telefon ke family dan main games atau internet, sambil menunggu kapan jadwal rotation pulang..., dengan bejibun aturan dan laporan dan standar Safety, Security dan lainnya. Saat ini, disaat uang begitu sulit dicari, komunikasi begitu mudahnya dengan internet dan hape dengan keluarga atau pacar tercinta, para pelaut yang aku kenal jadi sangat berhati hati mengeluarkan uang buat hal hal yang tidak perlu. Menggunakan waktu istirahat se efisien mungkin, menggunakan waktu pesiar kedarat untuk bersantai, makan makanan yang beda dengan menu kapal. Ada juga yang mampir ke lokalisasi, mencurahkan hasrat biologis pada penjaja sex yang persentasinya benar benar kecil selama aku berlayar. Sekali lagi ini pengalamanku berlayar di kapal Supply jenis towing tug dan utility bersama beberapa perusahaan. 



Bravo pelaut...

Hari Pelaut 2011 – Latar Belakang


By Hendrik Irawanto

  1. Pada 2010, negara-negara ahli IMO bersetuju bahawa sumbangan unik pelaut di seluruh dunia kepada perdagangan antarabangsa melalui jalan air/laut khasnya, dan sumbangan kepada ekonomi dan masyarakat dunia amnya, mestilah dihargai dengan menetapkan satu ‘Hari Pelaut’ setiap tahun.
  2. Tarikh yang dipilih pada 25 Jun setiap tahun adalah berdasarkan tarikh semakan terhadap Kod STCW yang diadakan dalam Konferens Diplomatik IMO di Filipina pada 25 Jun 2010.
  3. Buat julung-julung kalinya tahun ini, kempen sejagat secara atas talian dilancarkan menggunakan pelbagai laman sosial bagi menyatakan sokongan dan penghargaan kepada golongan pelaut.
  4. Tujuannya adalah untuk menyampaikan penghargaan kepada keseluruhan 1.5 juta pelaut di seluruh dunia terhadap sumbangan unik mereka yang selalunya terlepas pandang oleh masyarakat umum.
  5. Dengan menggalakkan interaksi dalam talian berkenaan pelaut, kita ingin menyampaikan penghormatan, perakuan dan kesyukuran kepada pelaut di mana-mana sahaja.
  6. Capaian universal laman sosial boleh meningkatkan kesedaran berkenaan peranan penting yang dimainkan oleh golongan pelaut dalam ekonomi dunia,  dalam pembangunan berterusan, yang membolehkan kapal-kapal membawa 90% dagangan dunia dengan selamat, cekap dan dengan kesan minima terhadap alam sekitar.
  7. Sambutan Hari Pelaut juga adalah peluang untuk mendidik masyarakat awam berkenaan isu-isu yang dihadapi pelaut moden – seperti lanun.
  8. Lebih penting lagi, sambutan ini adalah kesempatan buat kita untuk mengucapkan ” Terima Kasih Pelaut”. Thank you, seafarers.

Selamat Hari Pelaut 2011. Thank you, seafarers.

Sunday, November 13, 2011

Orang Indonesia Berlayar dari California-Bali Sendirian

coverlayar Orang Indonesia Berlayar dari California Bali Sendirian
DENPASAR – Rob Rama Rambini (52) pria kelahiran Italia, berhasil mewujudkan ambisinya mengarungi lautan bebas dari California AS ke Bali, seorang diri hanya ingin bertemu Kanjeng Ayu Tristutji Kamal, ibunya yang tinggal di Indonesia.
Bahkan atas keberanian dan prestasinya menyabet rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), orang Indonesia pertama yang berlayar sendirian dari California ke Bali. Rob yang semula dijadwalkan tiba di Pelabuhan Benoa, Denpasar Sabtu (2/4) sekira pukul 14.00 Wita, namum baru tiba sekira pukul 01.27 Wita, tadi pagi.
Penghargaan Muri Nomor 4810/R.MURI/IV/2011 diserahkan perwakilan MURI disaksikan Direktur Jenderal Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Sapta Nirwandar di Pelabuhan Serambi Mariana Benoa, Kota Denpasar, Bali, Minggu (3/04/2011).
Dia pun bertutur tentang pengembaraannya yang memang dilakukan sejak usia muda. “Tujuan saya ke Indonesia karena sudah lama tidak bertemu ibu. Itu motivasi saya ke Indonesia,” kata Rob Rambini. Ibunda Rob Rambini adalah kerabat Kraton Surakarta, Jawa Tengah.
Sebelumya, Rob Rambini berlayar dari California ke Hawaii, kemudian turun melalui Kepulauan Solomon, Vanuatu dan Karang Laut, ke Port Moresby, Papua New Guinea. Pria yang hobi fotografi itu meninggalkan Port Moresby, 12 November 2010.
Meski sendirian berlayar tak mengurangi semangatnya hingga ia berhasil masuk melalui perairan Indonesia, lalu mendarat selama sehari di Pulau Tanimbar, Saumlaki, untuk memasok kebutuhan logistik.
Sayangnya saat akan merapat ke Bali, cuaca cukup buruk sehingga harus beberapa kali melakukan pendaratan mendadak, karena kondisi cuaca dan gelombang tinggi.
Kini bersyukur setelah berpetualang selama 30 tahun mencari pengalaman akhirnya tiba dengan selamat di Indonesia bertemu dengan semua kerabatnya yang telah lama berpisah. “Saya tiga bulan di Bali ya untuk jalan-jalan,” kata dia soal rencananya setelah bertemu sang ibu.
Tampak ikut menyambut kedatangan Rob Rambini, Dirjen Pemasaran Kemenbudpar Sapta Nirwandar, General Manager Pelindo III Benoa Iwan Sabatini, Kadis Pariwisata Bali Ida Bagus Kade Subhiksu, Putri Duta Pariwisata Indonesia dan undangan lainnya.*okezone.com

Berlayar di Bermuda, 2 Orang Tewas Misterius

FBI datang menyelidiki.
Hendrik Irawanto
VIVAnews - Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) dipanggil untuk menyelidiki kasus kematian tak biasa. Dua orang tewas ditemukan di kapal pesiar, 'Norwegian Dawn' yang berlabuh di Boston, Jumat 28 Oktober 2011 pagi. Kapal itu baru berlayar tujuh hari dalam tur ke Bermuda.

Mereka yang tewas adalah seorang perempuan berusia 69 tahun dan seorang pemuda berusia 23 tahun. Kematian keduanya tak terkait, namun polisi tertarik pada kasus ke dua: kematian pria yang berusia lebih muda.

Hingga kini, aparat belum memastikan, tewasnya kedua penumpang karena pembunuhan. Namun, berita kematian dua orang tersebut membuat penumpang yang lain syok dan terguncang.

"Kematian ke duanya terjadi di dua bagian terpisah, juga tak terkait satu sama lain," kata Kejaksaan Distrik Suffolk dalam pernyataannya, seperti dimuat Boston Globe. "Dengan tidak adanya tuntutan kriminal, tak ada rincian lebih lanjut yang akan dirilis dalam kasus ini.

Sementara, juru bicara FBI, Greg Comcowich mengatakan, para agennya langsung dikirim ke kapal setelah mendapatkan laporan itu. "FBI bertanggung jawab untuk menginvestigasi kejadian kriminal di laut lepas," tambah dia.

Comcowich menjelaskan, setelah mengetahui kabar kematian mencurigakan itu, pihaknya langsung berkoordinasi dengan sejumlah agen lokal dan nasional.

Lantas diketahui, perempuan tua yang meninggal berasal dari Tiverton, Rhode Island. Ia meninggal pada Kamis malam setelah 'menderita penyakit kronis'," kata Norwegian Cruise Line dalam pernyatannya.

Sementara, pihak kepolisian masih menyelidiki tewasnya pria yang usianya jauh di bawahnya. Kabinnya sedang ditelusuri, untuk menemukan bukti lebih lanjut. "Doa kami menyertai keluarga kedua orang tersebut, yang sedang mengalami masa-masa sulit."

Kapal yang memiliki 16 dek tersebut berlabuh di dermaga Black Falcon, Boston pukul 06.30 pagi waktu setempat.

Penumpang kapal raksasa yang ke luar mengatakan mereka terkejut mendengar berita itu. "Saya terkejut, tidak tahu apapun. Aku bahkan tak mendengar rumornya," kata Dave Hennessey kepada WHDH-TV.

"Ini pelayaran keempatku. Ini kali pertamanya aku mendengar kabar kematian. Bukan hanya satu orang, tapi dua sekaligus," kata penumpang lain, Joe Lorusso.

Kapal 'Norwegian Dawn' memiliki panjang 965 kaki, memiliki kapasitas 2.224 orang penumpang dan 1.073 kru. (sumber: Daily Mail) (adi)
• VIVAnews

COAST GUARD OFFLOADS SEVEN TONS OF COCAINE


News Image
Coast Guard offloads seven tons of cocaine
Contraband is the result of two drug sub captures 

11/4/2011
ST. PETERSBURG, Fla. —The crew of the Coast Guard Cutter Cypress, a 225-foot buoy tender homeported in Pensacola, Fla., along with several state, federal and local partners, offloaded seven tons of cocaine at Coast Guard Sector St. Petersburg, Oct. 28.
You can see the action in the following video:
 
The crew of the Coast Guard Cutter Mohawk, a medium-endurance cutter homeported in Key West, Fla., interdicted a drug smuggling, self-propelled semi-submersible (SPSS) vessel, commonly referred to as a “drug sub,” in the Western Caribbean Sea Sept. 30.
The total interdiction is approximately seven tons and valued at nearly $180 million wholesale. The crew of the Mohawk stopped two SPSS vessels in 13 days. Used regularly to transport illegal narcotics in the Eastern Pacific, this interdiction is only the third Coast Guard interdiction of an SPSS in the Caribbean. The Coast Guard’s first interdiction of a drug smuggling, SPSS vessel in the Western Caribbean Sea happened July 13. Another 7.5 tons of cocaine was intercepted that day.
In another incident, the Coast Guard Cutter Bear, out of Portsmouth, Va., intercepted a go-fast vessel carrying more than 2 tons ofcocaine on Sept. 9.
The Coast Guard has interdicted more than 30 tons of cocaine this year alone.
The crew of a maritime patrol aircraft deployed in support of Joint Interagency Task Force South operations in the Caribbean spotted a suspicious vessel and notified the Mohawk crew of the location.
The Mohawk-based Coast Guard helicopter crew and pursuit boatcrew interdicted the SPSS and detained its crew. The SPSS sank during the interdiction along with the contraband.
The crewmembers of the Coast Guard Cutter Cypress commenced searching for the sunken SPSS on Oct. 17. Coast Guard crews and the FBI Laboratory's Technical Dive Team, located at Quantico, Va., conducted multiple search patterns. The SPSS was located by the dive crew on Oct. 19.
"The interdiction of a third SPSS in the Caribbean brings to a close an extremely successful fiscal year for the Coast Guard here in Southeast U.S. and Caribbean,” said Rear Adm. Bill Baumgartner, commander of the 7th Coast Guard District, in a prepared statement. "Working with our interagency and international partners, we detained 98 smugglers and prevented 60,064 pounds of cocaine and 4,412 pounds of marijuana with a combined street value of $727 million from reaching our streets. Although we have been finding highly creative and innovative ways to make our counter drug mission successful, we continued to be challenged by the maintenance requirements and limited capabilities of our aging fleet of larger ships. One of the greatest limitations to our success is the availability of large cutters to patrol the transit zones and new cutters, designed to patrol far offshore in District Seven, will ensure we continue to detect threats at greater distances from U.S. shores and meet the demands of our robust counter drug mission."
Built in the jungles and remote areas of South America, the typical SPSS is less than 100 feet in length, with four to five crewmembers, and carries up to 10 metric tons of illicit cargo for distances up to 5,000 miles. Drug traffickers design SPSS vessels to be difficult to spot and rapidly sink when they detect law enforcement, thereby making contraband recovery difficult.
"This is the second self-propelled semi-submersibles case for this crew and I am extremely proud we were able to stop millions of dollars of cocaine from reaching the streets of America," said Cmdr. Mark Fedor, Coast Guard Cutter Mohawk's commanding officer, in a press release. "They are a significant threat to our nation and throughout Central and South America because they can smuggle massive amounts of narcotics as well as other illicit goods or people and we will continue to be out here and stand a vigilant watch."
The U.S. Coast Guard, U.S. Navy, Customs and Border Protection, and partner nation aircraft and vessel crews work together to conduct counter drug patrols in the Caribbean.

Saturday, November 12, 2011

Geokinetics: Work Environment

Marine Seismic Methods


Marine Seismic Methods

Seismic methods, as employed in marine applications, differ little in theory from ground based seismic surveys.  A sound wave generating device is used to transmit a sound wave, while receiving devices measure the amplitude and arrival times of the returned (reflected /refracted) signals.  However, practical applications of field techniques, field equipment, and geographic control can vary greatly between surface and marine surveys.
In the case of marine surveys, the instrumentation is generally a towed transmitter and array of geophones (figure 1).  In some shallow water applications, a specialized array that rests on the ocean floor during acquisition is used (figure 2).  Given the difficulty associated with establishing straight survey lines while in a vessel on a body of water, and with the necessity to image deep structures, the field equipment can be cumbersome.  Figure 3 demonstrates the scale of field equipment necessary for marine seismic acquisition.  Positional control is generally provided by a global positioning system (GPS) where the GPS sensor is mounted on the vessel towing the magnetometer, with a constant offset equal to the distance from the GPS sensor to the geophone array.  
A variety of seismic sources are available for marine applications, including water guns (20-1500 Hz), Air Gun (100-1500 Hz), Sparkers (50-4000 Hz), Boomers (300-3000 Hz), and Chirp Systems ( 500 Hz-12 kHz, 2-7 kHz, 4-24 kHz, 3.5 kHz, and 200 kHz).  The greatest resolution of near surface structure is generally obtained from the higher frequency sources such as the Chirp systems, while the lower frequency tend to better characterize structure at depth (http://woodshole.er.usgs.gov/operations/sfmapping/seismic.htm ).
Figure 1. An illustration adapted from an educational website on petroleum illustrates the basic application of seismic data acquisition in a marine setting ( fromhttp://openlearn.open.ac.uk/mod/resource/view.php?id=172129)   Use of this image is provided for demonstration purposes, and is not intended as an endorsement for this website.

Figure 2.  Illustration showing one technique for ocean floor seismic data acquisition, as employed at a USGS case study in the San Francisco Bay. (http://walrus.wr.usgs.gov/earthquakes/cencal/deepseis.html ).

Figure 3.An on-deck example of marine seismic equipment, showing the 8 kilometer solid streamer, tail buoy and stabilizer ‘birds’ inspected prior to the start of an Australian seismic survey. This image is provided for demonstration purposes, and is not intended as an endorsement for use of any of the pictured products.
Figure 4.  A seismic line coverage map, from a USGS fault mapping investigation in the San Francisco Bay Area, is presented (http://geo-nsdi.er.usgs.gov/metadata/open-file/00-494/metadata.faq.html ).
Figure 5.  Example chirp and boomer data acquired from Bear Lake, Idaho.  Example illustrates the varying results corresponding to high (chirp) and low (boomer) frequency sources (http://woodshole.er.usgs.gov/operations/sfmapping/seismic.htm ).